Seni instalasi Arise 1 karya Apel Hendrawan -- Foto: Eka

WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga.

Itulah gambaran mengenai seni instalasi karya Apel Hendrawan. Karya berjudulArise 1 itu, adalah satu dari dua karya utama yang hadir dalam pameran seni rupa Hamer. Pameran yang melibatkan tiga perupa, yakni Apel Hendrawan, Anyon Muliastra, dan Made Romi Sukadana itu, akan dihelat di Loka Serba Guna Sekar Jambu, Jalan Sedap Malam, Denpasar, untuk dua minggu mendatang.

Pameran yang mengambil tema “Kinship in Art” ini cukup menarik. Pameran seni rupa yang mengedepankan patung, melibatkan tiga perupa yang sebelumnya aktif di dunia lukis. Mereka malah aktif dalam komunitas perupa Ten Fine Art, yang terdiri dari sepuluh orang pelukis kawakan.

Dalam pameran Hamer, mereka bukan menunjukkan identitas sebagai pelukis, namun sebagai pematung. Apel, Anyon, dan Romi, mengeksplorasi kemampuannya menghasilkan karya dalam bentuk patung, terutama yang terbuat dari media tembaga.

Karya Arise 1 milik Apel Hendrawan, menjadi simbol peralihan media ketiga perupa. Karya seni instalasi itu menunjukkan identitas ketiganya kala beralih dari pelukis menjadi pematung. Wanita yang dilukiskan oleh Apel, hanya bisa pasrah ketika tubuhnya mengelupa menjadi serpihan-serpihan tembaga. Belakangan serpihan tembaga itu yang menjadi media eksplorasi rupa ketiga perupa.

“Karya itu bisa dibilang kebangkitan untuk persembahan. Jadi karya itu memunculkan identitas awal kami sebagai pelukis. Kemudian kami mengalami peralihan dari lukisan ke plat tembaga. Makanya di bagian bawah itu seperti mengelupas, menjadi kepingan-kepingan tembaga,” ujar Apel saat menjelaskan makna karyanya.

Apel, Anyon, dan Romi juga menjaga identitas mereka sebagai perupa dari kelompok Ten Fine Art. Ketiganya membuat karya patung keroyokan yang berjudul Pohon Cinta. Karya patung dari tembaga yang berwujud batang kamboja berbentuk hati itu dibuat sekitar tiga bulan lalu, dan menjadi karya utama dalam pameran tersebut. Karya itu juga direspon dengan tari kontemporer yang ditarikan oleh Jasmine Okubo, saat pembukaan pameran, Minggu (10/7) malam lalu.

Sebagai perupa yang biasa bergelut di komunitas Ten Fine Art, mereka juga tak kesulitan melepas ego masing-masing. Ciri personal Apel, Anyon, dan Romi, terlihat pada karya itu. Ciri personal ketiganya kemudian luruh menjadi sebuah identitas baru, tanpa menghilangkan ciri personal ketiganya.

Hamer sendiri adalah akronim dari nama tiga seniman yang berpameran. Namun kata hamer bisa mengacu juga pada palu yang identik dengan patung. Lalu “kinship in art” mengacu pada nilai kebersamaan yang melandasi mereka berkarya.

Kurator pameran, I Made Susanta Dwitanaya dalam catatan kuratorialnya mengatakan, sebuah karya kolaboratif seperti patung Pohon Cinta, selalu menarik untuk diperbincangkan. Sebab tanpa adanya semangat kebersamaan, saling berbagi, serta suasana dialogis yang intim, sebuah karya kolaboratif mustahil terwujud.

“Sebuah karya bersama yang dikerjakan tiga orang, tentu ada upaya meluruhkan ego dan karakteristik personal dalam satu garapan. Ini membutuhkan proses dialog yang intens antar anggotanya masing-masing dalam proses penggarapan,” kata Susanta.

Susanta juga menyatakan, para perupa dewasa ini sudah tidak lagi fanatik pada sebuah media karya. Perupa semakin intens menggeluti medium-medium lain, dalam membuat sebuah karya. “Perupa hari ini telah melakukan penjelajahan medium. Perupa lukis yang biasa menjelajahi karya dua dimensi, kini mengakrabi medium tiga dimensi. Mereka tidak saja akrab dengan kuas, tapi juga akrab denganhamer  sebagai bagian dari aktivitas berkesenian termutakhir mereka saat ini,” imbuhnya.

Dalam bentuk karya rupa patung, masing-masing perupa membawa sedikitnya tiga buah karya. Romi Sukadana, membawa karya berjudul Celebrate, Jago, Silver Three, dan Alone. Apel Hendrawan membawa tiga buah karya patung tembaga yang masing-masing berjudul Gesture 1, Gesture 2, serta Gesture 3. Anyon Muliastra juga memboyong tiga buah karya patung tembaga dengan judul Raut 1, Raut 2, dan Raut 3.

Mengingat pameran Hamer menjadi ajang peralihan karya seni rupa bagi Romi, Apel, dan Anyon, mereka juga sepakat membawa masing-masing sebuah karya lukisan. Lukisan sekaligus menjadi identitas awal bagi ketiganya, saat mulai berkecimpung pada dunia seni rupa.

Anyon Muliastra membawa lukisan berjudul Rona (2016), 100×150 cm, cat akrilik pada kanvas. Apel Hendrawan menghadirkan karya lukis dengan judul Arise 2(2016), 100×150 cm, cat minyak pada kanvas. Sementara Romi Sukadana memboyong lukisan berjudul Rajanya Disambut (2016), 130×150 cm, cat akrilik dan minyak pada kanvas.

Ketua Himpunan Pelukis Sanur, Ida Bagus Sidharta Putra secara terpisah, menjelaskan karya-karya ketiga perupa memberikan warna baru dan spirit baru di bidang seni rupa. “Mereka menunjukkan pelukis tidak harus kaku menghasilkan sebuah karya lukis saja. Mereka bisa menjelajah ke media seni rupa lain, seperti saat ini berupa seni patung. Bagi generasi-generasi perupa yang lebih muda, ini harus menjadi sebuah spirit untuk kemajuan,” ucap Sidharta. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY