Wayan Redika, Turtle Egg, 1995, Mixed Media on Canvas, 2 Panels

 

KABAR DARI ZWOLLE

 

Kenalkan aku pada wangi musim gugur

Di tengah pesta roti  dan remah-remahnya

Yang terbang mengitari sungai

Lalu singgah di beranda penuh cerita

 

Sepasang pemilik usia

Menikmati plum

Sambil merahasiakan mimpi

Agar mereka yakin yang rindu masih tersisa

Di musim penuh dan delion berguguran

Sedangkan si penjaga toko asik menutup pintu

Bergegas pergi ke pesta roti

 

Adalah pagi yang kehilangan matahari

Setelah si tua menjadi semakin pandai menyimpan mimpi

Maka disaksikannya pentas Othello saban minggu

Sampai habis cara untuk menikam mimpi

Atau rahasia remaja yang belum pernah

menjadi topik minum susu

 

Dibenamkan lagi keraguan, sembari mengitari sungai

Sepasang angsa asik membagi dahaga

Pun burung gereja melintas batas

Kini mereka menepi, menyanyikan doa surga

Di Katedral.

Nyala lilin meliukkan doa

Agar mimpi tetap menjadi rahasia

Sampai mereka tidak kenal cara untuk mencinta

 

Belanda, 6 September 2014

 

 

SURAT LENA

 

Sudah lama kau tak pulang

Kau pun belum tuntas menikmati sejuk halamanku

tempat untuk membisikan cerita

bila surat ini terbaca

maka sudah habis perjalanan rindu

yang kususun rapi di antara anyir airmata

dan waktu sudah berpulang

menjemput segala rahasia senja

sebentar lagi, kau akan pulang

kau pun boleh menitipkan isyarat

pada cemara depan rumah

atau pada kucing di pantai utara

katakan, kau masih ingin menyebutku

katakan saja tanpa ragu

dan harihari kita selipkan

bersama peluk ombak

meluluhkan pasir

yang akan mengajakmu pulang

 

Singaraja, Januari 2014

 

 

TELAGA LOTUS

 

Di Telaga Lotus,

Kuterka wajah senja menyulam mantram

Lelaki renta menetaskan seribu cahaya kecil

Di antara Bunga Lotus yang kian kembang

Dan ranting dingin bersulang

Merayakan kelahiran hujan.

 

Di Telaga Lotus,

Suara kekawin menggiring langkah

Menuju damai

Bersama sekawanan angsa

Semakin merdu, semakin merindu

Dan puisi menjadi gurau

yang masih terkatup

dalam wangi Lotus

 

 

BUAT NING

: Rahatri

 

Darahmu serupa darah menjangan

Selalu menjadi luhur

Sulit diburu

 

Darahmu sangat bening

Selalu menjadi anggur

Sulit dibeli

 

Darahmu menyatu dengan hening

Selalu menguliti sepi layar

Tetapi sulit direkam

 

Mungkinkah kau damai

Yang selalu menyekah upakara

Kerinduanku ?

Hening

Bening

SHARE
Previous articlePesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
Next articleWanita Senja
Wulan Dewi Saraswati

Suka menulis, suka berteman. Kini sedang menikmati masa pacaran. Setelah tamat dari Undiksha Singaraja, kini magang jadi guru bahasa Indonesia untuk turis di Ubud

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY